Showing posts with label Renungan. Show all posts
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Friday, 30 December 2011

Nasehat dan Catatan Akhir Tahun 2011

Nasehat dan tausiyah perlu disampaikan karena kita berada di akhir atau penghujung tahun 2011. Artinya, sebentar lagi kita akan memasuki tahun baru 2012. Materi Dakwah Islam dan Kultum memberikan catatan akhir tahun dan tahun baru sebagai bentuk refleksi untuk kita renungkan mengingat saat ini adalah momentum yang baik.

Tahukah Engkau wahai saudaraku,

Saudaraku..., sekiranya engkau lupa, lewat catatan akhir tahun ini aku mengingatkan agar engkau tak lagi memperturutkan hasrat dan keinginan duniawimu. Hentikan tertawa terbahak-bahak dan pesta poramu, karena engkau segera menghadap Tuhanmu!

setiap kali Engkau berada di penghujung atau akhir sebuah tahun dan memasuki tahun baru sesungguhnya usia dan jatah hidupmu di dunia telah berkurang satu tahun lagi. Seiring semakin besarnya angka usiamu dan tahun maka itu artinya waktu untuk hidup di dunia telah semakin sedikit. Dan semakin sedikitnya sisa waktumu hidup di dunia berarti semakin dekatlah engkau akan bertemu Tuhanmu, Allah subhanahu wa ta’ala.

Wahai saudaraku, pantaskah engkau berpesta pora dan bergembira tak terkira ketika sisa hidupmu tak lagi cukup untuk menunggu lusa. Pantaskah engkau menghamburkan uangmu sekedar memperturutkan nafsu dan hasrat duniawimu ketika sebentar lagi engkau tiada. Dan elokkah engkau tertawa terbahak-bahak menertawakan semakin dekatnya waktu enkau bertemu dengan Sang Pencipta.

Saudaraku..., sekiranya engkau lupa, lewat catatan akhir tahun ini aku mengingatkan agar engkau tak lagi memperturutkan hasrat dan keinginan duniawimu. Hentikan tertawa terbahak-bahak dan pesta poramu, karena engkau segera menghadap Tuhanmu!

Cobalah flash back wahai saudaraku. Ingat-ingatlah dan renungkanlah, apakah selama hidupmu engkau banyak mengabdi kepada Tuhamu. Apakah telah engkau kerjakan segala perintah Tuhanmu. Apakah telah engkau tinggalkan seluruh larangan Tuhamnu.

Saudaraku, harta yang kau kumpulkan dan kau jadikan kebanggaan, apakah akan menyertaimu di saat engkau menghadap Tuhanmu. Apakah rumah dan mobil mewahmu dapat engkau jadikan bekal menjumpai Tuhamnu. Tak satupun harta yang telah engkau miliki dan juga anak-anak dan keluargamu yang menyertaimu dalam perjumpaanmu dengan Tuhanmu. Mereka membiarkamu sendirian dalam kegelapan alam kubur. Mereka membiarkanmu merasakan buah perbuatanmu saat engkau menghadap Tuhanmu.

Pesta poramu pasti berakhir seperti akan berakhirnya hidupmu. Bila engkau masih memiliki iman saudaraku, ber-muhasabahlah, evaluasi dirilah dan introspeksilah akan perjalanan hidupmu yang lalu. Apakah perjalanan hidupmu yang lalu telah banyak engkau peruntukkan bagi pegabdian terhadap Tuhanmu atau sebaliknya. Sekalipun tidak lagi banyak sisa waktu yang engkau miliki, sekaranglah waktunya engkau abdikan dirimu demi Tuhanmu. Tak perduli, berapa panjang dan jauh engkau tersesat dari jalan Tuhanmu. Segeralah berhenti dan berbelok arah untuk kembali menuju jalan Tuhanmu.

Wahai saudaraku, sekali lagi, di akhir tahun ini ijinkan aku memberikan catatan untuk mengingatkanmu bahwa hidupmu tak akan lagi bertambah lama, tetapi sebaliknya, semakin pendek dan singkat. Perbaiki hubunganmu dengan Tuhanmu. Perbaiki amal ibadahmu. Hentikan kemaksiatanmu.

Gunakan waktumu, sisa umurmu, harta bendamu sebagai media menuju Tuhanmu. Segeralah mencari bekal untuk pulang. Dunia ini bukan rumahmu. Dunia ini hanyalah persinggahanmu. Engkau pasti pulang, pulang untuk menghadap Tuhanmu.

Saudaraku, Tuhanmu telah mengingatkanmu sebagaimana termaktub dalam QS Al-Hasyr : 18 – 21 :


يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَ لْتَنْظُرْ نَفْسٌ ما قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَ اتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبيرٌ بِما تَعْمَلُونَ

"Wahai orang-orang yang ber¬iman! Takwalah kepada Allah dan hendaklah merenungkan se¬tiap diri, apalah yang telah diper¬buatnya untuk hari esok. Dan takwalah kepada Allah! Sesung¬guhnya Allah itu Maha Menge¬tahui apa jua pun yang kamu kerjakan."

وَ لا تَكُونُوا كَالَّذينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْساهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولئِكَ هُمُ الْفاسِقُونَ

"Dan janganlah keadaan kamu seperti orang-orang yang me¬lupakan Allah, lalu Allah pun membuatnya lupa kepada dirinya sendiri; itulah orang-orang yang fasik."

لا يَسْتَوي أَصْحابُ النَّارِ وَ أَصْحابُ الْجَنَّةِ أَصْحابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفائِزُونَ

"Tidaklah sama penghuni-peng¬huni neraka dengan penghuni¬-penghuni syurga, penghuni¬-penghuni syurga, itulah orang¬orang yang beruntung."


لَوْ أَنْزَلْنا هذَا الْقُرْآنَ عَلى‏ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَ تِلْكَ الْأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون

"Kalau sekiranya Kami turunkan al-Quran ini ke atas sebuah gunung, niscaya akan engkau lihatlah gunung itu tunduk ter¬pecah-belah disebabkan takut kepada Allah; dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami perbuat untuk manusia supaya mereka berfikir.
Akhirnya saudaraku, terima kasih telah mau membaca catatan akhir tahun ini. Semoga kita semua menyadari akan hakekat dan esensi pergantian tahun."

Ya Allah, mohon engkau tidak hukum kami yang sampai saat ini belum mampu kembali menuju jalan-Mu. Bimbing kami, tunjukkanlah kami, arahkanlah kami menju jalan-Mu di sisa umur dan jatah hidup kami.

Wednesday, 28 December 2011

Tanda-Tanda Orang Bertakwa

Mari kita mengenali tanda-tanda atau indikator orang bertakwa (muttaqin) untuk mengukur diri sendiri, apakah kita sudah termasuk orang bertakwa atau bukan?

Secara etimologis takwa berasal dari وقى يقى وقايتا yang artinya : menutupi, menjaga, berhati-hati, berlindung dan takut. Sedangkan pengertian secara terminologis adalah :

الخوف بالجليل والعمل بالتنزيل والاستعداد ليوم الرحيل والرضى بالقليل

“Takwa adalah takut kepada Dzat yang Maha Mulya, beramal berdasarkan (wahyu) Al-Qur’an, mencari bekal untuk perjalanan akhirat dan ridho terhadap keputusan Allah.”

Berdasarkan terminologi takwa

Mari kita mengukur dan mengaca diri dengan indikator orang bertakwa

di atas maka tanda-tanda atau
indikator orang bertakwa adalah takut kepada Allah, beramal berdasarkan wahyu, mencari bekal untuk kehidupan sesudah mati, dan ridha terhadap keputusan Allah.

Dalil Takut kepada Allah :

...فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“...Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah : 44)

Tanda-tanda atau indikator takut kepada Allah menurut imam Abu Laits ada tujuh macam hal sebagaimana tersebut berikut ini:
  1. Ia memiliki lidah yang selalu menjadikannya sibuk berdzikir atau bertasbih kepada Allah dengan membaca Al-Qur'an dan mempelajari ilmu agama.
  2. Ia memiliki hati yang selalu mengeluarkan dari dalam hatinya perasaan tidak bermusuhan, iri, dengki dan lain sebagainya.
  3. Penglihatannya tidak akan memandang kepada hal-hal yang haram, tidak memandang dunia dengan keinginan hawa nafsu, tetapi ia memandanginya dengan mengambil i'tibar dan pelajaran. Rasulullah SAW bersabda; "Barang siapa
    memenuhi matanya dengan hal-hal yang haram, Allah SWT akan memenuhi matanya
    besok di hari kiamat dengan api neraka".
  4. Perutnya, dia tidak memasukkan hal-hal haram kedalamnya, sebab yangdemikian itu adalah perbuatan dosa, seperti sabda Nabi kita Muhammad SAW yang artinya: "Ketika sesuap haram masuk dalam perut anak cucu Adam, semua malaikat di bumi dan di langit membenci dan melaknat kepadanya, selama suapan itu masih berada dalam perutnya dan kalau ia mati dalam keadaan seperti itu, maka tempatnya adalah jahanam.
  5. Tangannya, dia tidak memanjangkan tangannya kearah hal-hal yang
    haram, tetapi memanjangkannya untuk memenuhi keta'atan.
  6. Telapak kakinya, dia tidak berjalan kepada hal-hal yang haram ataukedalam kemaksiatan, tetapi berjalan di jalan Allah SWT dengan bersahabat atau berteman dengan orang-orang yang sholeh.
  7. Keta'atannya, dia menjadikan keta'atannya itu murni dan ikhlas karena Allah SWT.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal (qs. Al-Anfal : 2)

Dalil Beramal berdasarkan wahyu

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-An’am : 153)

...وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

... dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya. (qs. Al-Ahqaf : 26)

Dalil Mencari bekal untuk perjalanan Akhirat

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (Al-Baqarah : 197)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran : 133-134)

Dalil Ridho kepada keputusan Allah SWT.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَاۤ أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُواۤ إِنَّا لِلّٰهِ وَإِنَّاۤ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (QS. Al-Baqarah : 155-156)

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengn penuh keyakinan); maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (menjadi kafir). Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Al-Hajj : 11)

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« مَا مِنْ مُصِيبَةٍ تُصِيبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةَ يُشَاكُهَا رواه البخاري

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. Al-Bukhariy no.5640)

Sunday, 25 December 2011

Ayat Kauniyah dalam Al-Quran

Ayat Kauniyah

Ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur'an sering dilupakan dan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sedangkan ayat-ayat tentang fikih (fiqh) dan aqidah mendapat perhatian yang luar biasa besar, bahkan seakan-akan hanya kedua hal tersebut yang terdapat dalam Al-Qur'an.

Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh sedikitnya orang-orang yang faham dan ahli di bidang ayat-ayat kauniyah. Sedangkan yang ahli bidang fikih dan aqidah sangat banyak. Dan juga dimungkinkan pemahaman bahwa bicara Islam dan Al-Qur'an adalah sama saja dengan membicarakan shalat, puasa, zakat, haji dan surga neraka. Padahal tidak, dalam al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat kauniyah yang bila dipelajari dan difahami merupakan kunci bagi kemajuan umat Islam dan dapat bersaing dengan orang-orang Barat yang sudah sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Al-Qur’an tidak sekedar sebagai Kitab Suci, tetapi juga buku ilmu pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji. Sinyal-sinyal dan indikator ilmiyah banyak sekali dijumpai dalam rentetan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan memahami dan mempelajari sinyal-sinyal ilmiyah dalam Al-Qur'an ini sesungguhnya umat Islam dapat lebih beriman kepada keMahaKuasaan Allah. Karena secara empirik, kekuasaan Allah dapat dibuktikan dan sekaligus tidak dapat ditandingi oleh siapapun.

Menurut syekh thanthawi, Ayat kauniyah dalam Al-Qur’an ada sekitar 750 ayat. Sedangkan menurut Agus Purwanto ada 1108 ayat. Ayat-ayat ini bisa dieksplore dan dikaji lebih mendalam untuk menjadi ilmu pengetahuan dan memajukan dunia Islam agar tidak selalu terbelakang.

Prinsip Memahami Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang berisi ilmu Allah, manusia diperintahkan untuk berusaha memahaminya. Hasil pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an sangat mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Maka kita tidak boleh mengklaim paling benar.

Sikap kita terhadap hasil pemahaman manusia akan Al-Qur’an tidak boleh menyamai sikap kita terhadap Al-Qur’an. Hal ini disebabkan kebenaran al-Qur’an adalah qath’i, sedangkan kebenaran hasil pemahaman manusia adalah relatif. Karena relatif, maka tidak bisa dipegang sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri.
Pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh sosial budaya, ekonomi, politik, geografis, penguasaan ilmu, kemampuan yang berbeda, dan sebagainya. Pemahaman manusia dengan latar belakang yang berbeda ini akan sangat memungkinkan menghasilkan perbedaan dalam memahmi teks Al-Qur’an.

Al-Qur’an tidak mengalami perubahan, tetapi pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an itu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan keadaan yang melatarbelakanginya. Perkembangan ini secara jelas dipaparkan oleh Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78)

Contoh ayat yang bisa dieksplor dan yang tidak


Berikut ini adalah contoh ayat bukan kauniyah dan ayat kauniyah yang dapat di eksplor :

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. As-Sura : 4)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ (25) وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). (QS. Ar-Rum : 25)

(ayat kedua : adalah ayat yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdiri dengan iradah Allah. Pertanyaan sederhananya adalah : bagaimana mekanisme dan proses berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradah Allah dalam bentuk apa).

Perhatikan ayat berikut : QS. an-Naml : 18

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ 

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,  makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf : 31)

Demikian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang Al-Qur’an.

Friday, 2 December 2011

Harapan Kepada Pimpinan KPK yang Baru

Harapan yang tinggi diberikan kepada para pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ya harapan yang kelewat tinggi, yaitu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diharapkan dapat memberantas korupsi di semua lembaga dan departemen serta instansi. Mereka diharapkan menjadi pendekar anti korupsi, mujahid atau pejuang yang memerangi korupsi dan berani memimpin hijrah bangsa Indonesia menuju negara nir korupsi atau bebas korupsi. Dan juga mereka mempunyai strategi tepat, pasukan hebat, dan amunisi berlipat dalam memerangi korupsi.

Kenapa harapan sangat besar dititipkan kepada mereka? Karena – meminjam istilah Mochammad Jasin – kondisi korupsi di Indonesia sangat kronis dari waktu ke waktu. Kenapa bisa demikian, tentu hal ini disebabkan sistem penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia masih belum berorientasi secara maksimal pada pelaksanaan prinsip-prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), apalagi sampai clean governance. Jadi kemudian menjadi sangat wajar dan tidak mengherankan bila Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang didasarkan survey Transparansi Internasional, mendapatkan indeks pada kisaran angka 2 dari tahun 2004 hingga tahun 2007. Nilai tersebut menempatkan Indonesia pada urutan atau ranking negara korupsi ke 137 dari 159 negara tersurvei. Sedangkan untuk tahun ini (2011), IPK Indonesia adalah 3 dan menempati peringkat atau ranking 100.

Kenapa bisa sedemikian rendah indeks korupsi di Indonesia? Jawabannya tidaklah sulit. Rendahnya IPK Indonesia dikarenakan oleh adanya praktek korupsi dalam urusan layanan pada bidang bisnis, pajak, pengadaan barang dan jasa pemerintah, proses pengeluaran dan pemasukan barang di pelabuhan, pungutan liar oleh polisi, imigrasi, tenaga kerja, dan proses pembayaran termin proyek dari KPKN (Kantor Perbendaharaan Kas Negara) dan sebagainya.

Tahukah Anda berapa uang negara yang dikorupsi oleh para koruptor? Menurut Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) selama 7 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono menghasilkan catatan bahwa telah terjadi penyimpangan anggaran sebesar Rp103,19 triliun. Hal ini sesuai dengan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Berarti uang negara yang hilang karena dikorupsi adalah 103,19 trilyun.

Sementara  itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik per Maret 2009, jumlah miskin penduduk Indonesia adalah : kota = 11.910.000,5 dan desa = 20.619.000,4. Kalau dijumlahkan sama dengan 32.530.000 orang. bila dipersentae dengan keseluruhan penduduk Indonesia yang miskin adalah 14,15%. Bila uang 103,19 trilyun dibagikan kepada penduduk miskin, maka masing-masing orang akan menerima Rp 3172148,785736243. Sungguh lumayan buat mereka yang miskin.

Empat dari delapan calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), telah berhasil dipilih. Mereka dipilih melalui voting di Komisi III DPR RI. Empat pimpinan KPK yang terpilih itu adalah : Bambang Widjajanto, Abraham Samad, Adnan Pandu Praja, dan Zulkarnin. Mereka berempat ditambah Busyro Muqqodas, akan dipilih untuk menjadi ketua KPK untuk periode 2011-2015.

Dan dalam proses selanjutnya, dilakukan pemilihan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk periode 2011-2015. Dari kelima nama pimpinan KPK hasil pilihan di Komisi III dan Busyro Muqoddas, terpilihlah Nama Abraham Samad sebagai Ketua KPK yang baru. Dan otomatis yang lain menjadi wakil ketua.

Harapan saya (mungkin juga yang lain) terhadap pimpinan KPK yang baru dalam perang melawan korupsi adalah :


·         Mereka sungguh-sungguh dan berketapan hati memerangi korupsi. Saat ini korupsi adalah musuh nomor satu negara Indonesia. Maka mereka harus mampu dan berani menjadi panglima dan hulubalang melawan para koruptor. Sebagaimana firman Allah

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”(QS Ali Imran : 159)
Atau seperti pepatah :
مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“siapa yang sungguh-sungguh, maka dia berhasil”

·         Mereka harus memimpin bangsa Indonesia berhijrah. Berhijrah menuju satu keadaan nir korupsi, penuh kejujuran, akuntable, dan amanah. Dengan semangat hijrah, berarti mereka memimpin bangsa ini untuk meninggalkan kejahatan korupsi. Senagaimana pengertian dan definisi hijrah yang dikemukakan oleh Ali bin Naif as-Suhud :
اَلْهِجْرَةُ هِيَ تَرْكُ الْمَعَاصِي
“Hijrah adalah meninggalkan kejahatan”

Akhirnya semoga bermanfaat dan memperoleh kemenangan dalam pertempuran melawan korupsi.

Thursday, 1 December 2011

WAKTU : Antara Keberuntungan dan Kerugian

Posting berikut ini tidak hanya terkait dengan pengertian, melainkan juga tentang tips dan cara memanfaatkan waktu.

Pengertian atau Definisi Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.

Dalam penggunaannya, kata waktu sering digabung dengan kata yang lain. Misalnya waktu shalat, lorong watu, waktu luang, bom waktu, waktu buka, waktu sahur, shalat lima waktu, dimensi waktu, disiplin waktu, tepat waktu, dan masih banyak yang lain.

Terkait dengan istilah waktu, dalam Islam dikenal dengan berbagai macam istilah. Istilah-istilah penyebutan waktu yang digunakan adalah ajal, dahr, waqt, dan ‘ashr. Istilah-istilah tersebut memiliki makna dan arti secara spesifik.

اجل (ajal)             : untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng kecuali Allah Swt.
دهر (dahr)            :  digunakan untuk menunjuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan sampai punahnya alam ini.
وقت (waqt)          : digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
عصر (‘ashr)          : makna aslinya adalah perasan, yang berarti bahwa manusia itu harus memeras pikiran dan keringatnya untuk amal soleh. Menunjukkan bahwa saat – saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras, amal shaleh, dsb. Kata ‘ashr adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia.

Allah menciptakan waktu bagi manusia tentu ada maksud dan tujuannya bahkan manfaatnya. Tujuan kehadiran waktu dalam Islam dijelaskan dengan dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat yang menjelaskan kehadiran waktu bagi manusia di antaranya adalah :

1. Menjadi kesempatan untuk introspeksi dan bersyukur
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan : 62)

2. Pelajaran bagi manusia, bahwa manusia seperti bulan
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin : 39)

3. Untuk mengetahui bilangan tahun dan sebagainya

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)

Waktu yang sudah Allah berikan kepada manusia harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kegagalan dalam memanfaatkan waktu maka berakibat pada kerugian yang besar bagi manusia. Hal ini terungkap dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr : 1-3.

Cara memanfaatkan waktu harus sesuai dengan kehendak Allah swt. Tuntunan Allah dan Rasulnya dalam pemanfaatan waktu adalah sebagai berikut: digunakan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan tidak boleh menunda-nunda kesempatan, mengingat segalanya ada batas akhir. Misalnya sehat pasti ada sakitnya, hidup ada saatnya mati, kaya ada saatnya miskin dan seterusnya.

Penjelasan mengenai cara memanfaatkan waktu tertuang dalam dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits berikut ini :


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِيْ فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, “Rasulullah Saw memegang pundakku seraya bersabda, ‘Di dunia ini, jadilah engkau seperti orang asing atau pengembara!” Ibnu Umar berkata, “Bila kamu berada pada waktu sore, jangan menunggu pagi; dan bila kamu berada pada waktu pagi, jangan menunggu waktu sore. Ambillah sebagian dari sehatmu untuk sakitmu dan sebagian hidupmu untuk matimu” (HR. Bukhari)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ   اِغْتَنِمْ  خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Kemudian Rasulullah Saw. Memberi nasehat kepada seseorang, ‘Gunakan lima hal sebelum datangnya lima hal yang lain : masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu; sehatmu sebelum sakitmu; kayamu sebelum miskinmu; sempatmu sebelum sibukmu; hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. Bukhari-Muslim)

Menyia-nyiakan waktu atau tidak maksimalnya kita dalam menafaatkan waktu berakibat sangat luar biasa. Dan akibat menyia-nyiakan waktu tersebut kita akan mengamali kerugian yang sangat besar, baik dalam kontek dunia maupun akhirat. Ayat-ayat dan Hadits di bawah ini mungkin dapat menjelaskan bagi kita tentang tidak pandainya kita dalam memanfaatkan waktu.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي الله عَنْهمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Bahwasanya Nabi Saw. bersabda, ‘dua nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan kesempatan”. (HR. Bukhari)

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr : 1-3)

خسر tertulis dalam bentuk nakirah (indefinitif) maksudnya adalah keragaman dan kebesaran. Sehingga berarti kerugiannya sangat besar.

Nasehat Imam Ali KW.
مَا فَاتَكَ الْيَوْمُ مِنَ الرِّزْقِ يُرْجٰى غَدًا عَوْدَتُهُ وَمَا فَاتَكَ مِنَ الْعُمْرِلاَيُرْجٰى رَجْعَتُهُ
Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu (umur) yang berlalu  hari ini tidak dapat diharapkan untuk kembali.

Waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jangan terlewatkan sia-sia agar tidak timbul penyesalan ketika menghadap Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mukminun : 99-100.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.

Akhirnya, semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu sehingga tidak termasuk orang-orang yang mengalami kerugian, baik saat di dunia maupun di akhirat kelak.

Monday, 28 November 2011

Manfaat Menahan Marah

Ada manfaat yang sangat besar apabila kita dapat menahan marah. Tidak saja manfaat bagi fisik dan kesehatan, tetapi juga manfaat bagi rohani dan keagamaan yang bersifat islami.

Manfaat fisik dan kesehatan dari menahan marah dapat berupa terhindarnya kita dari hormon noradrenalin. Hormon noradrenalin adalah senyawa beracun yang bersama-sama hormon adrenalin (hormon yang timbul akibat kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat) dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah dan bahkan dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Biasanya orang yang takut dan marah dadanya akan tersa sesak dan nafasnya tersengal-sengat. Itu semua merupakan akibat munculnya dua hormon tersebut.

Maka apabila kita berhasil menahan marah, berarti kita telah menjauhkan diri dari salah satu faktor penyebab penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Dan berarti juga kita telah mengeliminir salah satu sebab gagal jantung dan penyakit stroke.

Perlu diketahui juga bahwa bila gagal dalam menahan marah akan berakibat dan beresiko pada :

1. perbuatan atau tindakan yang tak terkontrol karena kehilangan kesadaran normal
2. dikucilkan atau dijauhi orang lain
3. menghilangkan keharmonisan hubungan sosial
4. mempengaruhi syaraf di otak
5. rusak dan hancurnya harta benda
6. membuka pintu bagi syetan untuk mempengaruhi tindakannya.

Dikarenakan manfaat yang sangat besar bila menahan marah dan resiko yang juga sangat besar bila mengikuti sifat marah atau mengumbar kemarahan maka kemudian Rasul memberikan dalil larangan marah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

“Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah saw. : (Ya Rasulallah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Seseorang itu menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.” (HR. Bukhori )

Sedangkan manfaat menahan marah bagi rohani dan keagamaan dapat dilihat dari dijadikannya menahan marah sebagai indikator takwa seseorang dan dijamin masuk surga.

Tentang menahan marah sebagai indikator takwa, terungkap dalam Firman Allah QS. Ali Imron 133-134 sebagai berikut :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron : 133-134)

Sedangkan jaminan surga bagi yang mampu menahan marah termaktub dalam Hadits Rasulullah tentang larangan marah berikut ini :

عن ابي درداء قال قلت يا رسول الله دلّني علي عمل يدخلني الجنة قال لا تغضب ولك الجنة

“Ya Rasulallah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke surga. Rasul menjawab :”jangan marah, maka untukmu surga”.” (HR. Thabrani)

Demikian catatan kecil tentang manfaat menahan marah dari Materi Dakwah Islam dan Kultum. Semoga bermanfaat.

Friday, 25 November 2011

Bentuk-bentuk dan Macam Kejujuran

Mengenai kejujuran, ada beberapa topik atau tema yang terkait. Misalnya adalah pengertian, manfaat, bentuk dan macamnya, sebab-sebab harus jujur, cara menjadi orang jujur, dan cara menjaga kejujuran.

Dalam kesempatan ini, tidak semua topik atau tema kejujuran akan dibahas oleh Materi Dakwah Islam dan Kultum, tetapi hanya terbatas pada bentuk dan macam kejujuran. Sedangkan yang lain, insya Allah dibahas pada kesempatan yang lain.

Ada beberapa bentuk atau macam kejujuran yang harus senantiasa dilakukan oleh seorang, baik muslim atau bukan. Jujur adalah sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Apalagi dalam kontek Indonesia. Penting bagi Indonesia karena Negara ini banyak terjadi korupsi dalam berbagai lini dan tingkatan. Baik yang individu maupun kolektif. Menjadi sebuah keniscayaan, bila kejujuran menjadi semangat bersama.

Adapun bentuk, macam, dan aneka pegelompokan kejujuran adalah sebagai berikut:

1. Jujur niat dan kemauan (shidqu an-niyyah wa al-'azm)

Adalah melakukan segala sesuatu dilandasi motivasi dalam kerangka hnaya mengharap ridha Allah swt. Nilai sebuah amal di hadapan Allah swt. sangat ditentukan oleh niat atau motivasi seseorang. Rasulullah saw. dalam sebuah hadits yang sangat populer menyatakan bahwa sesungguh-nya segala amal manusia ditentukan oleh niatnya.

Selain itu, seorang muslim harus senantiasa menimbang-nimbang dan menilai segala sesuatu yang akan dilakukan apakah benar dan bermanfaat. Apabila ia sudah yakin akan kebenaran dan kemanfaatan sesuatu yang akan dilakukan, maka tanpa ragu-ragu lagi akania lakukan. Kadang sesuatu yang benar belum tentu bermanfaat di masyarakat tertentu. Demikian juga sesuatu yang bermanfaat belum tentu benar. Oleh karena itu, pertim-bangan benar dan bermanfaat secara bersamaan perlu dikedepankan.

2. Jujur dalam perkataan (shidqu al-lisan)

Jujur dalam bertutur kata adalah bentuk kejujuran yang paling populer di tengah masyarakat. Orang yang selalu berkata jujur akan dikasihi oleh Allah swt. dan dipercaya oleh orang lain. Sebaliknya, orang yang berdusta, meski hanya sekali apalagi sering berdusta maka akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Rasu¬lullah mengingatkan:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« اضْمَنُوا لِى سِتًّا مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَضْمَنُ لَكُمُ الْجَنَّةَ اصْدُقُوا إِذَا حَدَّثْتُمْ وَأَوْفُوا إِذَا وَعَدْتُمْ وَأَدُّوا إِذَا اؤْتُمِنْتُمْ وَاحْفَظُوا فُرُوجَكُمْ وَغُضُّوا أَبْصَارَكُمْ وَكُفُّوا أَيْدِيَكُمْ

"Jaminlah kepadaku enam perkara dari dirt kalian, niscaya aku men-jamin bagi kalian surga: jujurlah jika berbicara, pemihilah jika berjanji, tunaikan jika dipercaya, jagalah kemahian kalian, tiinduk-kanlah pandangan, dan tahanlah tangan kalian" (HR. Ahmad)

3. Jujur ketika berjanji (shidq al-wa 'ad)

Seorang muslim yang jujur akan senantiasa menepati janji-janjinya kepada siapapun, meskipun hanya terhadap anak kecil. Nabi bersabda:

عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم انه قال من قال لصبي تعال هاك ثم لم يعطيه فهي كذبة

"Barangsiapa berkata kepada anak kecil, kemari soya beri korma ini, kemudian dia tidak memberinya, maka dia telah melakukan kebo-hongan" (HR. Ahmad)

Orang yang sering mengingkari janji juga akan kehilangan kepercayaan orang lain, bahkan akan mendapatkan label munafik, sebagaimana sabda Rasulullah:

عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال آية المنافق ثلاث إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان

“Ciri-ciri orang munafik ada tiga, yaitu: jika berkata ia dusta, jika berjanji, ia ingkar, dan jika diper¬caya, ia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim)

Sementara itu, Allah memberi pujian orang-orang yang jujur dalam berjanji. Dia memuji Nabi Ismail a.s. yang menepati janji-nya sebagai berikut:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولاً نَّبِيًّا

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ismail di dalam al-Qur 'an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang jujur janjinya, dan dia adalah seorang Rasul dan Nabi” (Qs. Maryam[19]: 54)

4. Jujur dalam bermu'amalah (shidq al-mu 'amalah)

Jujur dalam niat, lisan dan jujur dalam berjanji tidak akan sempurna jika tidak dilengkapi dengan jujur ketika berinteraksi atau bermu'amalah dengan orang lain. Seorang muslim tidak pernah menipu, memalsu, dan berkhianat sekalipun terhadap non muslim. Ketika ia menjual tidak akan me-ngurangj takaran dan timbangan. Pada saat membeli tidak akan memperberat timbangan dan menambah takaran.

Orang yang jujur dalam bermu'amalah juga senantiasa bersikap santun, tidak sombong dan tidak pamer (riya). Jika orang tersebut melakukan atau meninggalkan sesuatu, semuanya da¬lam koridor Allah swt. Ia tidak tamak dan serakah dalam bermu'amalah.

Barang siapa yang selalu bersikap jujur dalam bermu'amalah maka dia akan menjadi kepercayaan masya¬rakat. Semua orang akan merasa nyaman dan aman berinteraksi dan bermu'amalah dengannya.

5. Jujur dalam berpenampilan sesuai kenyataan (shidq al-hal)

Seorang yang jujur akan senantiasa menampilkan diri apa adanya sesuai kenyataan yang sebenarnya. Ia tidak memakai topeng dan baju kepalsuan, tidak mengada-ada dan menampilkan diri secarabersahaja. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَسْمَاءَ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ مِنْ زَوْجِي غَيْرَ الَّذِي يُعْطِينِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كَلَابِسِ ثَوْبَيْ زُورٍ

“Seorang perempuan bertanya, : Ya Rasulullah, aku mempunyai kebutuhan. Maka apakah aku berdosa jika aku berpura-pura telah dicukupi kebutuhanku oleh suamiku dengan apa yang tidak diberikan kepadaku? Rasul bersabda : orang yang berpura-pura tercukupi dengan apa yang tidak diterimanya sama dengan orang yang memakai dua pakaian palsu” (HR Bukhari)

Maksud hadits ini adalah orang yang berhias dengan sesuatu yang bu-kan miliknya supaya kelihatan kaya, ia sama seperti orang yang memakai dua kepribadian. Orang yang memiliki sifat shidq al-hal tidak akan memak-sakan diri untuk memiliki dan menik-mati sesuatu yang di luar jangkauan kemampuannya. Dia sudah merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya sembari berikhtiar untuk menggapai keinginan-keinginan yang diharapkannya.

Wednesday, 16 November 2011

MENJADI ISTRI DAN IBU TELADAN

Muqaddimah

Perempuan menjadi pasangan hidup bagi pria merupakan qudratu-Llah. Dari pasangan hidup bagi pria, kemudian perempuan  berubah menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya. Di sisi lain, perempuan juga merupakan bagian dari keluarga dan masyarakat. Sehingga perempuan mempunyai peran dan fungsi berlipat ganda.

Prinsip-prinsip

Prinsip-prinsip dasar yang harus dipahami oleh perempuan antara lain :
1.       Manusia diciptakan dengan derajat sama tinggi, baik laki-laki maupun perempuan. (QS. At-Tin : 4)
2.       Manusia diciptakan oleh Allah dengan tugas yang sama, yaitu tugas pengabdian dan penghambaan hanya kepada Allah dan tugas sebagai khalifatu-Llah fi al-ardl. (QS. Al-Baqarah : 30 dan QS. Adz-Dzariat : 56)
3.       Laki-laki dan perempuan sama-sama mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang diusahakan. (QS. An-Nisa’ : 32 dan QS.an-Najm : 39)
4.      Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaqnya (HR. Bukhari. Muslim, ad-Daruquthni)

Peran dan Fungsi Perempuan

Sebagaimana disebutkan dalam muqaddimah, perempuan mempunyai peran dan fungsi yang berlipat ganda. Peran dan fungsi tersebut dikelompokkan dalam dua kategori :
1.       Peran domestik (kerumahtanggan), meliputi :
a.      Sebagai anggota keluarga, baik dalam keluarga sendiri maupun keluarga suami.
b.      Sebagai istri dari suami
c.       Sebagai ibu dari anak-anak buah dari pernikahan

2.       Peran Publik (Kemasyarakatan), meliputi :
a.      Keagamaan
b.      Sosial
c.       Budaya
d.      Politik
e.       Ekonomi
f.        Pendidikan
g.      Militer
h.      Dsb

Hambatan-hambatan

Satu hal yang harus disadari oleh perempuan dalam membawakan peran dan fungsi adalah adanya hambatan-hambatan. Hambatan-hambatan tersebut muncul secara internal dan eksternal.
1.             Hambatan internal
a.            Adanya rasa rikuh-pekiwuh
b.            Inferioritas perempuan
c.             Tidak eksploratif
d.            Dll.
2.             Hambatan eksternal
a.            Interpretasi ayat/hadits
b.            Kultur sosial yang kaku
c.             Superioritas laki-laki
d.            Dll

AKSI

1.             Meningkatkan kualitas personal perempuan (jasmani/rohani)
2.             Reinterpretasi terhadap ayat/hadits
3.             Menciptakan kultur sosial yang lebih mendukung perempuan
4.            Memberi kesempatan kepada perempuan bereksplorasi

Khatimah

Menciptakan peluang bagi perempuan untuk mejadi teladan adalah satu keniscayaan. Menjadi mustakhil bilamana perempuan hanya berada di rumah, di rumah……..dan ……..di rumah….! Bagaimana mungkin menjadi teladan bila aktifitas perempuan berkutat pada kasur, sumur dan dapur.

Semua berpulang kepada perempuan !!!

Friday, 11 November 2011

MEMBANGUN BANGSA DENGAN SEMANGAT HIJRAH

Mukaddimah
Hijrah merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam sejarah perjuangan Rasulullah saw. ketika menyebarluaskan risalah. Hijrah Menjadi tonggak awal keberhasilan dan suksesnya dakwah lslam, karena sejak peristiwa ini keberhasilan demi keberhasilan dapat diraih. Baik keberhasilan menyebarkan risalah,' membangun masyarakat, maupun tegak berdirinya sebuah waliyatul Islam dengan pondasi moral yang sangat kokph.

Sesungguhnya peristiwa hijrah diawaiI ketika tahun kenabian memasuki yang kesebelas. Pada musim haji, katika nabi Muhammad duduk di Aqabah. beliau berjumpa dengan enam orang Yatsrib dari suku Khazraj. Dalam pertemuan ini, keenam orang tersebut menyatakan diri masuk Islam setelah mendengar ajaran yang disampaikan oleh Nabi. Kemudian pada tahun keduabelas kenabian, datang lagi dua belas orang dengan perincian 10 orang dari suku Khazraj dan dua orang dari suku Aus. Keduabelas orang inipun masuk Islam dengan diiringi sebuah janji kesetiaan terhadap Islam. Dalam sejarah janji setia ini kemudian disebut dengan Bai'at al-'Aqabah pertama.

Dalam musim haji tahun yang sama, datang lagi rombongan dari Yatsrib dalam jumlah yang lebih besar. Kesempatan ini digunakan untuk mendeklarasikan keislaman mereka. Deklarasi keislaman ini dibarengi dengan janji setia tahap kedua (Bai'at al-Aqabah II) oleh 75 orang. Mereka berjanji untuk berjihad dan melindungi Nabi Muhammad saw. dengan kemampuan yang ada.

Setelah peristiwa ini, umat Islam kemudian diijinkan oleh Nabi Muhammad saw untuk berhijrah ke Yatsrib.

Makna Hijrah

Secara lughawi Abu Thayyib mengartikan hijrah dengan الترك (meninggalkan).   Menurut   Ibnui Arabi sebagaimana dikutip oleh Imam as-Syaukani dalam Kitab Nailul Authar dan Imam as-Shan'ani dalam kitab Subulus Salam, hijrah adalah:

الهجرة هي الخروج من دار الحرب الى دار الاسلام

keluar dari dar al-harbi menuju dar al-lslam”.

Senada dengan pengertian ini, Imam an-Nawawi mengartikan hijrah dengan :

الانتقال من دار الحرب الى دار الاسلام

berpindah dari dar al- harbi menuju dar al-lslam.

Sedangkan al-Jarjani dalam al-Ta’rifat, yaitu :

ترك الوطن الذي بين الكفار والانتقال من دار الحرب الى دار الاسلام

hijrah adalah meninggalkan negeri yang dikuasai orang-orang kafir dan berpindah menuju dar al-lslam.

Dalam Ensiklopedi Islam, hijrah mengandung beberapa pengertian, yaitu pertama kaum muslimin meninggalkan negeri asalnya yang berada di bawah kekuasaan pemerintahan kafir. Kedua, menjauhkan diri dari dosa dan ketiga, permulaan tarikh Islam.

Dari beberapa pengertian di atas, ada hal yang harus dicermati yaitu semangat meninggalkan satu wilayah tertentu (wilayatul kuffar) menuju wilayah lain (wilayatul Islam).

Penggarisbawahan terhadap pengertian meninggalkan wilayatul kuffar menuju wilayatul Islam dapat dipahami dalam dua dimensi, yaitu dimensi fisik dan psikis. Dimensi fisik berarti perpindahan itu terjadi secara fisik material Sedangkan dimensi psikis berati perpindahan itu terjadi dalam tataran psikis immaterial. Maksud dari ungkapan ini adalah bawah ketika seseorang melakukan perpindahan secara fisik (jasmani) dari satu tempat ke tempat lainnya karena satu hal maka itu yang dimaksud dengan hijrah jasmaniyah. Apabila perpindahan itu terjadi dalam kontek seseorang meninggalkan keadaan tertentu yang sangat buruk (al-ma'siyat) kemudian menuju kepada keadaan yang lain (al-thaa’ah) maka itu yang dimaksud dengan hijrah ruhaniyah.

Dalam kontek kehidupan sekarang tentu hijrah ruhaniyah lebih relevan dibandingakn dengan hijrah jasmaniyah. Hal ini disebabkan banyak kemaksiyatan dan kemungkaran yang dilakukan oleh manusia. Dan dalam kontek Indonesia juga sangat relevan. Yaitu semangat meninggalkan jiwa-jiwa korup menuju jiwa amanah dan jujur.

Berbeda halnya dengan hijrah di awal penyebaran Islam zaman Rasul saw. Saat itu benar-benar dibutuhkan perpindahan secara fisik guna mencari tempat-tempat yang kondusif untuk menyampaikan risalah. Keadaan sekarang sangat jauh berbeda dengan keadaan masa dulu. Islam telah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Tantangan yang dihadapi lebih bersifat ruhaniyah, baik secara individual maupun sosial kolektif. Karena tantangannya lebih bersifat ruhaniyah maka hijrahnyapun bersifat ruhaniyah.

Hijrah secara ruhaniyah mendorong manusia untuk selalu berbuat kebajikan dan meninggalkan kejahatan. Hijrah secara ruhaniyah ini perlu ditanamkan dalam setiap dada manusia sehingga masing-masing mempunyai semangat (ghirah) untuk melalukan hal-hal yang lebih bermanfaat daripada yang madharat, baik bagi dirinya maupun orang lain.

Kesadaran melakukan hijrah secara ruhaniyah apabila telah terinternalisir pada setiap individu maka efeknya sungguh luar biasa. Efek luar biasa yang bisa dirasakan adalah munculnya semangat menggantikan yang buruk dengan yang baik, setiap kesalahan selalu disusul dengan perbaikan, dan yang sangat penting adalah munculnya sifat dan prilaku self correction. Rasuluiiah saw. bersabda.

عن ابي ذر قال قال لي رسول الله اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن

Keterangan dari Abu Dzar, dia berkata. Rasuluiiah saw. bersabda kepadaku : Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada, ikutilah perbuatan yang buruk dengan yang baik dan pergaulilah manusia dengan ahlak yang baik (HR. Tirmidzi).

Hadits di atas secara eksplisit menyentuh persoalan semangat hijrah secara ruhaniah. Ada tiga hal yang tekait dengan persoalan ini, yaitu pertama Perintah supaya bertakwa dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi bagaimanapun. Kedua, korektif terhadap perbuatan masa lalu yang penuh kesalahan dan dosa kemudian diganti dengan kebaikan. Dan ketiga, menampilkan perilaku terbaik dalam kehidupan sehari-hari.

Membangun dengan semangat hijrah

Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk lebih dari 230 juta jiwa. Banyak peristiwa yang mengiringi perjalanan bangsa ini, baik sosial, politik, ekonomi, budaya, militer, dan sebagainya. Berskaia kecil dengan dampak yang kecil pula ataupun berskaia besar dengan dampak luar biasa secara nasional pernah dialami. Dalam tataran politik, Indonesia pernah berada di tangan rejim berbeda namun memiliki watak yang sama yaitu haus kekuasaan. Orde Lama maupun Orde Baru mempunyai krakteristik yang tidak jauh berbeda dalam hal ini. Dampaknya adalah terjadinya pembusukan politik dari yang paling atas hingga yang terendah di pemerintahan desa.

Di bidang ekonomi, Indonesia pernah mengalami carut marut secara ekonomi sehingga tidak mampu memberikan kesempatan kepada rakyat untuk mangan wareg nyandang rapet (makan kenyang dan berpakaian lengkap). Demikian juga terjadi pemusatan kekayaan di sekitar orang-orang tertentu yang dekat dengan kekuasaan. Terjadinya kolusi-korupsi-nepotisme dari waktu ke waktu secara terus menerus semakin memperburuk keadaan sehingga menyebabkan bangsa Indonesia tidak survive dalam percaturan global.

Di bidang hukum, para pelaku yang terlibat dalam persoalan hukum terbiasa bermain-main dan mempermainkannya. Penjahat kelas teri bernasib malang dan mengenaskan di tangan-tangan sadis tak berprikemanusiaan. Sementara penjahat kelas kakap bergembira menikmati hasil KKN tanpa khawatir masalahnya akan diproses dengan semestinya. Semboyan keadilan di bidang hukum dan pemerataan di bidang ekonomi dan pembangunan lebih bersifat lips service dan membesarkan hati rakyat daripada sebuah kenyataan.

Persoalannya adalah sampai kapan akan terus begini? Adakah political will untuk merubah keadaan sekaligus keberanian untuk melakukan hijrah secara ruhaniyah. Guna membangun bangsa ini menuju kepada yang lebih baik sangat diperlukan kesadaran untuk melakukan hijrah secara ruhaniah. Semua komponen bangsa harus secara bersama-sama dan lapang dada memandang bahwa hijrah secara ruhaniah merupakan alternatif problem solving yang tidak dapat dihindari. Tanpa adanya semangat mengganti prestasi buruk masa lalu dengan prestasi terbaik masa kini dan mendatang tidak akan berhasil dalam pembangunan. Jangan sampai bangsa Indonesia berkali-kali terantuk batu kesalahan yang sama. Belajar terhadap masa lalu adalah suatu keniscayaan demi perbaikan di masa mendatang.

Hijrah adalah sebuah peristiwa yang dapat dijadikan sebagai bahan pelajaran. Karena hijrah mengandung semangat untuk mencari sesuatu yang terbaik dan menjadikannya sebagai pilihan untuk dilakukan. Rasuluiiah saw ketika melakukan hijrahpun demi mencari sebuah kondisi yang terbaik untuk menyebarkan Islam.

Penutup

Akahirnya, keberhasilan dan kegagalan adalah pilihan yang harus diambil salah satu. Keberhasilan dan kegagalan pembangunan berada di tangan bangsa Indonesia sendiri.

Demi waktu ! Sesungguhnya manusia pasti berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman (dan berkomitmen terhadap keimanannya), mengerjakan amal shaieh (sebagai wujud komitmen terhadap keimanannya) dan saling memberikan wasiat dalam kebenaran dan kesabaran (sebagai wujud adanya keberanian mengoreksi dan dikoreksi).