Sunday, 25 December 2011

Ayat Kauniyah dalam Al-Quran

Ayat Kauniyah

Ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur'an sering dilupakan dan tidak mendapat perhatian sama sekali. Sedangkan ayat-ayat tentang fikih (fiqh) dan aqidah mendapat perhatian yang luar biasa besar, bahkan seakan-akan hanya kedua hal tersebut yang terdapat dalam Al-Qur'an.

Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh sedikitnya orang-orang yang faham dan ahli di bidang ayat-ayat kauniyah. Sedangkan yang ahli bidang fikih dan aqidah sangat banyak. Dan juga dimungkinkan pemahaman bahwa bicara Islam dan Al-Qur'an adalah sama saja dengan membicarakan shalat, puasa, zakat, haji dan surga neraka. Padahal tidak, dalam al-Qur'an banyak terdapat ayat-ayat kauniyah yang bila dipelajari dan difahami merupakan kunci bagi kemajuan umat Islam dan dapat bersaing dengan orang-orang Barat yang sudah sangat maju dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Al-Qur’an tidak sekedar sebagai Kitab Suci, tetapi juga buku ilmu pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji. Sinyal-sinyal dan indikator ilmiyah banyak sekali dijumpai dalam rentetan ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan memahami dan mempelajari sinyal-sinyal ilmiyah dalam Al-Qur'an ini sesungguhnya umat Islam dapat lebih beriman kepada keMahaKuasaan Allah. Karena secara empirik, kekuasaan Allah dapat dibuktikan dan sekaligus tidak dapat ditandingi oleh siapapun.

Menurut syekh thanthawi, Ayat kauniyah dalam Al-Qur’an ada sekitar 750 ayat. Sedangkan menurut Agus Purwanto ada 1108 ayat. Ayat-ayat ini bisa dieksplore dan dikaji lebih mendalam untuk menjadi ilmu pengetahuan dan memajukan dunia Islam agar tidak selalu terbelakang.

Prinsip Memahami Al-Qur’an

Al-Qur’an adalah Kitab Suci yang berisi ilmu Allah, manusia diperintahkan untuk berusaha memahaminya. Hasil pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an sangat mungkin berbeda antara satu dengan lainnya. Maka kita tidak boleh mengklaim paling benar.

Sikap kita terhadap hasil pemahaman manusia akan Al-Qur’an tidak boleh menyamai sikap kita terhadap Al-Qur’an. Hal ini disebabkan kebenaran al-Qur’an adalah qath’i, sedangkan kebenaran hasil pemahaman manusia adalah relatif. Karena relatif, maka tidak bisa dipegang sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri.
Pemahaman manusia terhadap Al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh sosial budaya, ekonomi, politik, geografis, penguasaan ilmu, kemampuan yang berbeda, dan sebagainya. Pemahaman manusia dengan latar belakang yang berbeda ini akan sangat memungkinkan menghasilkan perbedaan dalam memahmi teks Al-Qur’an.

Al-Qur’an tidak mengalami perubahan, tetapi pemahaman terhadap ayat-ayat al-Qur’an itu berkembang dan berubah sesuai dengan perkembangan situasi dan keadaan yang melatarbelakanginya. Perkembangan ini secara jelas dipaparkan oleh Allah :

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl : 78)

Contoh ayat yang bisa dieksplor dan yang tidak


Berikut ini adalah contoh ayat bukan kauniyah dan ayat kauniyah yang dapat di eksplor :

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Kepunyaan-Nya lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. As-Sura : 4)
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ (25) وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradah-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). (QS. Ar-Rum : 25)

(ayat kedua : adalah ayat yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, yakni keadaan berdiri dengan iradah Allah. Pertanyaan sederhananya adalah : bagaimana mekanisme dan proses berdiri tersebut, memerlukan waktu berapa lama dan kapan, dan iradah Allah dalam bentuk apa).

Perhatikan ayat berikut : QS. an-Naml : 18

حَتَّى إِذَا أَتَوْا عَلَى وَادِي النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ 

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”


يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,  makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf : 31)

Demikian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang Al-Qur’an.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment