Thursday, 1 December 2011

WAKTU : Antara Keberuntungan dan Kerugian

Posting berikut ini tidak hanya terkait dengan pengertian, melainkan juga tentang tips dan cara memanfaatkan waktu.

Pengertian atau Definisi Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.

Dalam penggunaannya, kata waktu sering digabung dengan kata yang lain. Misalnya waktu shalat, lorong watu, waktu luang, bom waktu, waktu buka, waktu sahur, shalat lima waktu, dimensi waktu, disiplin waktu, tepat waktu, dan masih banyak yang lain.

Terkait dengan istilah waktu, dalam Islam dikenal dengan berbagai macam istilah. Istilah-istilah penyebutan waktu yang digunakan adalah ajal, dahr, waqt, dan ‘ashr. Istilah-istilah tersebut memiliki makna dan arti secara spesifik.

اجل (ajal)             : untuk menunjukkan bahwa segala sesuatu ada batas waktu berakhirnya, sehingga tidak ada yang langgeng kecuali Allah Swt.
دهر (dahr)            :  digunakan untuk menunjuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakan sampai punahnya alam ini.
وقت (waqt)          : digunakan dalam arti batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu pekerjaan.
عصر (‘ashr)          : makna aslinya adalah perasan, yang berarti bahwa manusia itu harus memeras pikiran dan keringatnya untuk amal soleh. Menunjukkan bahwa saat – saat yang dialami oleh manusia harus diisi dengan kerja keras, amal shaleh, dsb. Kata ‘ashr adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia.

Allah menciptakan waktu bagi manusia tentu ada maksud dan tujuannya bahkan manfaatnya. Tujuan kehadiran waktu dalam Islam dijelaskan dengan dalil yang berupa ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat-ayat yang menjelaskan kehadiran waktu bagi manusia di antaranya adalah :

1. Menjadi kesempatan untuk introspeksi dan bersyukur
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا
Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin memgambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur. (QS. Al-Furqan : 62)

2. Pelajaran bagi manusia, bahwa manusia seperti bulan
وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ
Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. (QS. Yasin : 39)

3. Untuk mengetahui bilangan tahun dan sebagainya

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui. (QS. Yunus : 5)

Waktu yang sudah Allah berikan kepada manusia harus benar-benar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kegagalan dalam memanfaatkan waktu maka berakibat pada kerugian yang besar bagi manusia. Hal ini terungkap dalam Al-Qur’an surat Al-Ashr : 1-3.

Cara memanfaatkan waktu harus sesuai dengan kehendak Allah swt. Tuntunan Allah dan Rasulnya dalam pemanfaatan waktu adalah sebagai berikut: digunakan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah, memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan tidak boleh menunda-nunda kesempatan, mengingat segalanya ada batas akhir. Misalnya sehat pasti ada sakitnya, hidup ada saatnya mati, kaya ada saatnya miskin dan seterusnya.

Penjelasan mengenai cara memanfaatkan waktu tertuang dalam dalil-dalil Al-Qur’an maupun Hadits berikut ini :


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (QS. Adz-Dzariyat : 56)

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِيْ فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa dia berkata, “Rasulullah Saw memegang pundakku seraya bersabda, ‘Di dunia ini, jadilah engkau seperti orang asing atau pengembara!” Ibnu Umar berkata, “Bila kamu berada pada waktu sore, jangan menunggu pagi; dan bila kamu berada pada waktu pagi, jangan menunggu waktu sore. Ambillah sebagian dari sehatmu untuk sakitmu dan sebagian hidupmu untuk matimu” (HR. Bukhari)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي اللهُ عَنْهُمَا قَالَ ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم  لِرَجُلٍ وَهُوَ يَعِظُهُ   اِغْتَنِمْ  خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Kemudian Rasulullah Saw. Memberi nasehat kepada seseorang, ‘Gunakan lima hal sebelum datangnya lima hal yang lain : masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu; sehatmu sebelum sakitmu; kayamu sebelum miskinmu; sempatmu sebelum sibukmu; hidupmu sebelum datang matimu”. (HR. Bukhari-Muslim)

Menyia-nyiakan waktu atau tidak maksimalnya kita dalam menafaatkan waktu berakibat sangat luar biasa. Dan akibat menyia-nyiakan waktu tersebut kita akan mengamali kerugian yang sangat besar, baik dalam kontek dunia maupun akhirat. Ayat-ayat dan Hadits di bawah ini mungkin dapat menjelaskan bagi kita tentang tidak pandainya kita dalam memanfaatkan waktu.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِي الله عَنْهمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa dia berkata, “Bahwasanya Nabi Saw. bersabda, ‘dua nikmat yang sering disia-siakan oleh banyak manusia adalah kesehatan dan kesempatan”. (HR. Bukhari)

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلاَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-Ashr : 1-3)

خسر tertulis dalam bentuk nakirah (indefinitif) maksudnya adalah keragaman dan kebesaran. Sehingga berarti kerugiannya sangat besar.

Nasehat Imam Ali KW.
مَا فَاتَكَ الْيَوْمُ مِنَ الرِّزْقِ يُرْجٰى غَدًا عَوْدَتُهُ وَمَا فَاتَكَ مِنَ الْعُمْرِلاَيُرْجٰى رَجْعَتُهُ
Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan perolehannya lebih banyak di hari esok, tetapi waktu (umur) yang berlalu  hari ini tidak dapat diharapkan untuk kembali.

Waktu harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, jangan terlewatkan sia-sia agar tidak timbul penyesalan ketika menghadap Allah. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mukminun : 99-100.

حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (99) لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (100)

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.

Akhirnya, semoga kita senantiasa termasuk orang-orang yang pandai memanfaatkan waktu sehingga tidak termasuk orang-orang yang mengalami kerugian, baik saat di dunia maupun di akhirat kelak.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment